WISATA RELIGI SD MANDALA II

STUDI WISATA SD MANDALA II
Sebuah field trip memperkenalkan perbedaan agama.

"Guru tentu saja adalah seorang seniman, tetapi menjadi seorang seniman bukan berarti ia dapat membentuk profil siswa. Yang dilakukan pendidik dalam mengajar adalah memungkinkan siswa untuk menjadi diri mereka sendiri." , Paulo Freire,  Filsuf Brazil dan tokoh pendidikan pembebasan,  dalam "Percakapan tentang pendidikan dan perubahan sosial."

Gambar : " Jika kita mengajar siswa masa kini seperti kita mengajar siswa masa lalu, kita merampas masa depan mereka. " John Dewey.

Salah satu kebaikan, diantara kualitas SD Mandala II Surabaya adalah aktifitas memperkenalkan adanya perbedaan kepada para siswanya dalam bentuk berkunjung ke ke tempat ibadah berbagai agama. Boleh saja orang beranggapan ini biasa, tapi bagi kami, hal ini sangat luar biasa, sebuah model pendidikan yg memberi contoh langsung tentang perbedaan, yg tidak hanya dalam kata- kata guru di dalam kelas.

Sebelumnya, mami Sophia Vishaka Nofani Suyitno, menerima  surat tertanggal 10 Maret 2026, tentang "Pengumuman kegiatan Field trip" , dari Kepala Sekolah SD Mandala II, Ibu Ana Fitri Astuti, SPd.  Berisi tentang kegiatan wisata religi, yg akan dilakukan pd 30 Maret 2026, mengunjungi tempat- tempat ibadah berbagai agama yg ada di Surabaya, yaitu Pura Segara Kenjeran ; Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Ngagel Madya ; Masjid Al Akbar di Pagesangan ; Vihara Budha Maitreya di Dukuh Kupang; dan Gereja GPIB Immanuel Bubutan.

Setelah membaca, isinya, "Waah...keren ya, field trip Sophia keliling rumah ibadah! Mengajarkan perbedaan itu okeee, toleransi itu baik.", begitu komentar maminya, Whindy Stefani.    Hal yg sama, papa Sophia, Suyitno, juga sangat mendukung kegiatan ekstra kurikuler sekolah yg bertujuan mengajarkan moderasi & toleransi beragama, ditengah kondisi mainstream keagamaan yg mengedepankan doktrin klaim kebenaran absolut masing- masing agama.  Mengingatkan ungkapan dari  mantan Presiden RI, Gur Dur, yg bicara tentang kemanusiaan dan kebaikan " Tidak penting apapun agama dan sukumu, kalau bisa melakukan sesuatu yg baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu."

Wisata religi ini bagi kami, tentu adalah sebuah gagasan yg cukup progesif dan mengajarkan konsep " Learning by doing", dg memberikan penekanan pada kehidupan atau pengalaman nyata siswa dalam belajar, seperti konsep pendidikan dari John Dewey, tokoh pendidikan dari Amerika. Juga pemikiran Jean- Jacques Rousseau, seorang tokoh Naturalisme, Perancis, yg mengatakan bahwa pendidikan seharusnya berpusat pada anak (child- centered), dg mengikuti perkembangan alamiah anak,  mengutamakan pengalaman fisik dan memberikan kebebasan pada anak untuk lebih mengeksplorasi lingkungannya.

Sebagai orang tua, kami sangat mendukung gagasan pengajaran sekolah yg mencerahkan ini, sesuai dg pandangan moderat orang tua Sophia yg mencoba melihat inti semua keyakinan dan agama adalah kebaikan & kasih sayang, seperti yg diungkapkan tokoh spiritual Tibet,  Dalai Lama " Agama saya sangat sederhana. Agama saya adalah kebaikan." . Dg prinsip belas kasih sebagai agama universal yg melampaui sekat dan batas agama apapun.

"Dari semua hal, cinta adalah yg paling ampuh.",  Maria Montessori

Gambar :  Kunjungan 5 tempat ibadah agama yg berbeda di Surabaya, Pura Hindu, Gereja Katolik, Masjid Al- Akbar,  Vihara Budha Maitreya, dan Gereja Protestan.

Sekolah Dasar Mandala II, sebagai kelanjutan dari pendidikan KB dan TK Sophia, menerapkan metode pendidikan yg dikembangkan berdasarkan model pemikiran filsuf pendidik Dr. Maria Montessori, dari Italia, terlihat sangat memperhatikan perkembangan alami anak didiknya.

Model pendidikan ini menekankan pada kemandirian, kebebasan memilih aktifitas yg disukai anak- anak, dg pembelajaran melalui pengalaman langsung guna memupuk potensi yg dimiliki.  Sebagai ortu, kami sangat mendukung penggunaan metode Montessori, yg sangat lengkap berdasarkan aspek fisik, kognitif, sosial, emosional dan spiritual. Tentu tujuannya sangat baik dan bermanfaat dalam membentuk anak kami untuk lebih aktif, toleran, dan mandiri.

Sesuai jadwal aktifitas, Senin tanggal 30 Maret 2026, setelah semalam menonton film " Pelangi di Mars" di  Ciputra World, Sophia bangun pagi dan tampak happy,  penuh semangat untuk segera mandi dan bersiap.  Berangkat minta diantar kedua orang tuanya menuju tempat berkumpul dan pemberangkatan di Jalan Soekarno ( MERR) , dan tampak 4 bus telah siap menunggu. Setelah peluk cium kedua orang tuanya Sophia menuju bus 1 yg telah siap dan beberapa temannya telah berada di dalam bus.

"Imajinasi tidak akan menjadi hebat sampai manusia, dg keberanian dan kekuatan yg dimilikinya,menggunakan untuk menciptakan sesuatu." Maria Montessori

Berikut  satu persatu daftar lokasi kunjungan wisata religi Sophia, bersama kawan- kawannya  :

1. Pura Segara di Kenjeran, memiliki arti laut atau air. Sebagai tempat sembahyang dan bermeditasi umat Hindu, diresmikan pd tahun 1981. Sebagaimana bangunan Pura,  di dalam Pura ini terdapat beberapa bangunan untuk beribadah para pemeluk agama Hindu, seperti Nista mandala, Taman beji, tirta, Candi bentar, Bale gong, dsb. Juga terdapat ruang pembelajaran agama Hindu untuk para siswa sekolah mulai dari PAUD dan  SMA. Di Pura ini pada waktu tertentu juga diadakan pertunjukkan budaya dan kerokhanian, seperti ogoh- ogoh, barong, tarian Bali,Gamelan Bali,dsb, yg sangat menarik.
2. Gereja Katolik St Maria tak bercela di Ngagel Madya, merupakan tempat sembahyang umat Katolik yg berada dalam Paroki atau komunitas umat dibawah Keuskupan Surabaya. Gerja Katolik ini memiliki bangunan gereja 2 lantai, kapel dan ruang lainnya, serta  menyediakan jadwal untuk misa harian dan mingguan bagi komunitas serta berbagai kegiatan paroki lainnya.
3. Masjid Al Akbar, Pagesangan, sebuah masjid umat Islam terbesar nasional yg berada di Kota Surabaya, dg luas lahan 11,2 hektar. Pembangunan masjid dimulai dg peletakan batu pertama oleh Tri Sutrismo, Wakil Presiden RI pada tahun 1995 dan diresmikan oleh  Presiden RI, Gus Dur,  pd 10 November 2000.  Masjid ini dikenal sebagai pusat kegiatan keagamaan Islam dan sosial masyarakat, memiliki menara setinggi 99 meter dan  bisa menampung antara 30.000-36.000 orang/jemaah untuk sembahyang Idul Fitri, Jumatan atau yg lainnya.
4. Vihara Budha Mattreya, Dukuh Kupang,  Vihara  ini merupakan aliran Buddha Mahayana, yg memiliki pandangan bahwa Tuhan merupakan bahasan utama dan penting.  Sebagaimana diketahui bahwa  agama Buddha  di Indonesia memiliki 3 aliran utama yaitu  Theravada (Aliran Sepuh) , Mahayana (Kendaraan Agung), dan Vajrayana (Kendaraan Berlian/ Tantra). Pada umumnya  dalam tradisi Buddha, pembahasan tentang Tuhan bukanlah menjadi hal yg utama dalam tradisi Buddha. Maitreya dalam bahasa Sansekerta berarti kasih sayang atau dikenal sebagai Budda cinta kasih
5. Gereja Kristen Immanuel,Jalan Bubutan. Sebuah gereja Kristen Protestan  ( GPIB) yg telah dibangun sejak tahun 1924, dg arsitek Albert Zimmerman dan saat ini memiliki status sebagai bangunan cagar budaya.  Gereja yg awalnya bernama "Protestan Kerk" atau "Nederlandsch Hervormde Kerk" ini  berubah menjadi "Gereja Bubutan", dan sejak tahun 1948 berganti nama menjadi GPIB " Immanuel" hingga saat ini.


Gambar : Salah satu momen kunjungan Sophia ke Pagoda Pancoran di Pantai Indah Kapuk ( PIK) di Jabodetabek, beberapa waktu lalu dlm mengenalkan tempat ibadah agama.

Demikian acara field trip Sophia bersama teman- teman sekolahnya SD Mandala II,  ke 5 lokasi tempat ibadah yg berbeda di Surabaya. Semoga kunjungan ke tempat ibadah ini memberikan inspirasi dan membuka cakrawala berpikir yg lebih luas tentang perbedaan cara beribadah dan agama yg ada. Ternyata ada banyak cara, ada banyak praktek beribadah untuk mencapai kebaikan, dan untuk bertemu dg Tuhan yg Maha Kasih.

Melihat berbagai tempat ibadah ini tentu akan memberikan  pengalaman empirik yg mengesankan, tidak terlupakan dan memberikan alternatif pandangan kepada Sophia, tentang agama apa yg akan diyakin ini dimasa depannya. Sehingga dia akan memegang kuat atas keyakinannya yg akan ditemukannya nanti.

Mengapa kunjungan wisata religi ini penting?
Hampir sebagian besar orang beragama mewarisi agama dari orang tua dan lingkungannya. Dan karena itu kami berpikir, Sophia jangan hanya mewarisi agama dari orang tuanya saja, tetapi bisa menemukan sendiri agama dan keyakinannya, dari proses belajar dan berpikir yg diajarkan di SD Mandala II.  
Pilihan terbuka untuk Sophia.
Kami tidak ingin membelenggu Sophia, kami ingin membebaskan Sophia, seperti yg dikatakan  seorang filsuf, Jean- Jacques Rousseau, dalam buku the Social Contract " Manusia dilahirkan bebas, dan dimana- mana ia berada dalam belenggu.".

Kami orang tua, tidak akan membantu tugas apa yg nantinya bisa dilakukan Sophia  sendiri dalam memilih keyakinan dan agamanya, karena hal ini adalah sebuah proses panjang seumur hidupnya, seperti apa yg  kami pahami dari  kata- kata Maria Motessori :
"Jangan pernah membantu anak mengerjakan tugas yg menurutnya bisa ia selesaikan sendiri."

Saat sampai di rumah, walapun terlihat lelah, namun ketika ditanya kesannya dg beberapa pertanyaan, ini jawaban polos yg disampaikan Sophia
• Kegiatan wisata religi ( field trip) ini sangat menyenangkan dan mengesankan baginya.
• Bagi Sophia, dia sangat terkesan dg bangunan Masjid  Agung yg dikunjungi.
• Selama dalam aktifitas ini dia mendapat teman sekelas yg  baik, yaitu Arthur
• Sophia mengatakan bahwa Miss Riska sangat baik dan membantunya selama dalam aktifitas field trip.
• Sophia merasa capek dan ngantuk ketika sampai di rumah.
• Bila ada kegiatan seperti ini, dg semangat mengatakan bhw Sophia ingin ikut kembali.

Mengakhiri tulisan kecil ini, sebagai orang tua siswa, kami sangat memberikan penghargaan dan apresiasi setinggi- tinginya kepada Kepala Sekolah, para guru dan seluruh civitas akademika SDN Mandala II yg telah sangat berhasil melaksanakan kegiatan wisata religi ini dg sangat baik dan sukses.

Salam...

Surabaya,  30 Maret 2026
Philosophia- Suyitno ( jalantolwisata.blogspot.com)

Disclamer : Tulisan ini mengabadikan acara Sophia yg semata untuk kepentingan pribadi/ keluarga dan tidak mewakili kepentingan organisasi apapun. Penyebutan produk,  pihak tertentu, atau siapapun yg berafiliasi dg satu hal didalamnya, semata hanya karena merupakan bagian aktifitas yg tdk terpisahkan.

Komentar